Goldman Sachs Ungkap Emas Bakal Melejit di 2026, Sementara Harga Minyak Diprediksi Tertekan oleh Surplus Pasokan

Emas Masih Lanjutkan Reli Naik Tahun 2026

LintasPortal.com - Bank investasi global Goldman Sachs memproyeksikan bahwa harga emas akan terus melonjak signifikan hingga akhir tahun 2026, sementara pasar minyak dunia diprediksi akan mengalami tekanan tajam akibat kondisi surplus pasokan global yang terus berkembang.

Dalam laporan Commodities Outlook 2026 yang dirilis baru-baru ini, tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Daan Struyven menilai bahwa dinamika pasar komoditas tahun depan akan dipengaruhi oleh dua tema besar: persaingan kekuatan global dan gelombang pasokan komoditas strategis.

Emas Bakal Terus Meroket

Goldman Sachs menempatkan emas sebagai salah satu aset unggulan di 2026. Harga logam mulia ini diproyeksikan mencapai US$4.900 per ons pada akhir tahun depan — jauh di atas level saat ini — didukung oleh permintaan kuat dari bank-bank sentral di seluruh dunia yang diperkirakan membeli emas sekitar 70 ton per bulan, atau empat kali lipat rata-rata historis sebelum 2022.

Permintaan dari investor ritel di AS melalui ETF emas juga masih relatif rendah, sehingga analis melihat masih banyak ruang kenaikan lanjutan jika minat investasi meningkat.

Minyak Menghadapi Tekanan Pasokan

Sementara itu, sektor energi khususnya minyak mentah diperkirakan akan menghadapi tantangan yang cukup berat di 2026. Goldman Sachs memperkirakan harga Brent rata-rata hanya akan berada di sekitar US$56 per barel, sedangkan WTI diperkirakan di kisaran US$52 per barel pada 2026. Tekanan ini disebabkan oleh kelebihan pasokan global yang masih membayangi pasar, meskipun gelombang pasokan baru diperkirakan mulai mereda.

Bank investasi ini juga menyoroti bahwa kecuali terjadi pemangkasan produksi besar oleh OPEC+ atau gangguan pasokan yang signifikan, stok yang sudah terbentuk akan terus menahan laju kenaikan harga minyak.

Prospek Komoditas Lainnya

Selain emas dan minyak, Goldman Sachs juga menilai prospek beberapa komoditas lain cukup menarik:

  • Tembaga: Dibayangkan akan bergerak lebih stabil di sekitar level US$11.400 per ton, namun tetap menjadi salah satu logam industri favorit jangka panjang berkat permintaan dari sektor AI, pusat data, dan elektrifikasi global.
  • Mineral baterai (seperti lithium dan nikel): Diperkirakan masih akan tertekan oleh ekspansi pasokan besar-besaran, terutama dari investasi China di Afrika dan Indonesia, sehingga harga diproyeksikan menurun hingga 25% menjelang akhir 2026.
  • Pasar gas alam: Menunjukkan pola berbeda di pasar global dan AS, dengan ekspor LNG AS diproyeksikan meningkat dan menjaga permintaan domestik tetap kuat.

Dengan pandangan yang komprehensif ini, Goldman Sachs menempatkan emas sebagai bintang utama pasar komoditas di 2026, sementara minyak dan beberapa mineral menghadapi tantangan besar dari sisi pasokan.

Apakah yang akan terjadi pada harga komoditas lainnya seperti perak atau gas alam? Pantau terus perkembangan terbaru di berita ekonomi dan investasi Indonesia serta global!

Media Corner 16062025

Media Corner 16062025