![]() |
Gedung Bank Indonesia |
LintasPortal.com - Konsensus terbaru yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan kembali memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin hingga akhir 2025. Dengan proyeksi tersebut, suku bunga acuan diperkirakan turun ke level 4,75%. Sebelumnya, BI sudah melakukan pemangkasan di luar ekspektasi pada Agustus 2025 sebesar 25 basis poin menjadi 5%.
Di tengah kebijakan moneter yang lebih longgar, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh solid. Konsensus memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional akan tumbuh sebesar 4,85% secara tahunan (YoY) pada 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan survei sebelumnya yang berada di level 4,8% YoY, sekaligus sejalan dengan outlook pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2025 yang dipatok di kisaran 4,7%–5%.
Namun, untuk tahun 2026, konsensus memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,9% YoY. Perkiraan ini sedikit lebih rendah dibandingkan survei Bloomberg sebelumnya di level 5% YoY, serta berada di bawah target pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 5,4% YoY.
Di sisi lain, tensi antara pekerja dan pemerintah kembali mencuat. Pada Kamis (28/8), ribuan buruh yang tergabung dalam berbagai serikat pekerja menggelar demonstrasi dengan sejumlah tuntutan penting. Mereka meminta kenaikan upah minimum sebesar 10,5% pada 2026, penghapusan sistem outsourcing, serta pembentukan gugus tugas khusus untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK).
Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menegaskan bahwa buruh juga menuntut kenaikan ambang batas pendapatan bebas pajak bulanan dari Rp4,5 juta menjadi Rp7,5 juta. Selain itu, serikat pekerja mendesak penghapusan pajak atas bonus dan pesangon, yang dinilai selama ini membebani pekerja.
Iqbal memperingatkan, jika pemerintah tidak merespons aspirasi tersebut, buruh siap melakukan pemogokan nasional. Menurutnya, aksi mogok akan menjadi pilihan terakhir bila dialog sosial tidak membuahkan hasil yang konkret. Ancaman ini sekaligus menjadi sinyal bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi salah satu tantangan serius bagi stabilitas ekonomi Indonesia ke depan.
Sementara itu, dari sektor komoditas strategis, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat lonjakan produksi minyak sawit nasional pada Juni 2025. Produksi mencapai 5,29 juta ton, tumbuh 16% secara bulanan (MoM) dan 31% secara tahunan (YoY). Capaian tersebut menjadi level bulanan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Gapki juga mengungkapkan bahwa peningkatan ditopang oleh kenaikan produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) sebesar 16% MoM dan minyak inti sawit (PKO) sebesar 17% MoM. Meski demikian, ekspor diperkirakan turun 5,1% YoY sepanjang 2025 menjadi 28 juta ton. Ketua Gapki, Eddy Martono, menjelaskan penurunan ekspor terjadi seiring meningkatnya konsumsi domestik, khususnya untuk kebutuhan biodiesel. Gapki memperkirakan total produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 tetap tumbuh 3,7% YoY hingga mencapai 50 juta ton. (*)