Rupiah Bakal Bergerak Liar Indikasi Analisa Pola Doji Pada Hari Ini

Foto: Ilustrasi Uang Rupiah
LintasPortal.com - Rupiah bergerak agak liar melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu kemarin. Sempat menguat di awal sesi, kemudian berbalik melemah, sebelum berakhir stagnan di Rp 14.250/US$.

Pergerakan yang sama bisa terjadi pada Kamis (10/6/2021), sebab pelaku pasar menanti rilis data inflasi AS malam ini.

Inflasi merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) untuk melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

Tapering merupakan isu utama yang ditakutkan pelaku pasar karena dapat menimbulkan gejolak yang disebut taper tantrum. Saat itu terjadi, dolar AS akan sangat kuat, dan rupiah terpukul.

Di sisi lain, rupiah juga sedang bertenaga setelah rilis data tingkat keyakinan konsumen kemarin. Konsumen Indonesia kini semakin percaya diri melihat perekonomian saat ini dan beberapa bulan ke depan. Ini terlihat dari kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Bank Indonesia (BI) melaporkan IKK periode Mei 2021 sebesar 104,4. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 101,5.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik mula. Jika di atas 100, maka artinya konsumen optimistis memandang perekonomian baik saat ini hingga enam bulan mendatang.
Konsumen yang semakin pede, menjadi indikasi peningkatan konsumsi, yang semakin menguatkan ekspektasi Indonesia lepas dari resesi di kuartal ini.

Secara teknikal, belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan mengingat rupiah berakhir stagnan kemarin.

Rupiah yang disimbolkan USD/IDR mampu bertahan di bawah rerata pergerakan 100 hari (moving average 100/MA 100) di kisaran Rp 14.290 hingga Rp 14.300/US$. Artinya, rupiah kini bergerak di bawah tiga MA, yakni MA 50, 100, dan 200, yang artinya momentum penguatan yang lebih besar.

Meski demikian, dalam 2 hari perdagangan terakhir, rupiah membentuk doji. Pola doji menjadi indikasi pasar masih galau menentukan kemana arah rupiah.

Support terdekat berada di kisaran Rp 14.240/US$, jika mampu ditembus rupiah berpeluang ke Rp 14.200/US$.

Sementara itu Stochastic pada grafik harian bergerak naik meski berada di posisi netral.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Stochastic saat ini berada di kisaran 45, masih jauh dari wilayah overbought maupun oversold.

Area Rp 14.300/US$ kini menjadi resisten terdekat, jika dilewati rupiah berisiko melemah menuju MA 200, di kisaran Rp 14.330 hingga Rp 14.340/US$.

Sumber: CNBC INDONESIA