Teriakan Buruh, Petani dan Mahasiswa di Hari Pahlawan

 

Foto: Teatrikal musik mahasiswa saat aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

LintasPortal.com - Buruh, petani dan mahasiswa melebur menjadi satu. Tetap dalam rombongan Gerakan Tolak Omnibus Law Jawa Timur (Getol Jatim). Peringati hari pahlawan dengan teriakan serta cucuran keringat. Perjuangan tiada henti. Melakukan aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (10/11/2020).

Peserta aksi hari ini tidak terlalu banyak. Sekitar 200 orang. Nampak terlihat lebih santai dan nyaman. Namun suasana tetap dramatis. Mahasiswa silih berganti menampilkan aksi teatrikal musik dan puisi. Pesan di dalamnya ialah kritikan untuk pemerintah.

"Dengan ini kita nyatakan mosi tidak percaya kepada pemerintah. Kita tidak pernah lelah menyerukan keadilan bagi rakyat," teriak si penampil teatrikal di depan puluhan temannya. 

Pesan yang disampaikan melalui teatrikal sangat tajam. Jika dihayati, yang melihat bisa saja sampai terbawa emosional. Spanduk hitam besar bertuliskan "Festival Rakyat - Mosi Tidak Percaya" sebagai backdrop.

Peserta aksi dipersilakan masuk dalam pembatas area. Lalu, diminta duduk sampai "bokong" menempel aspal. Hal itu untuk memastikan rombongan aksi tetap berjalan sesuai komando.

"Kami ingin memberikan pesan kepada masyarakat terkait gerakan omnibus law yang dilakukan Getol Jatim," kata Dannis Seniar Yullea Paripurna, koordinator lapangan (korlap) aksi.

Hal serupa terjadi di depan kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya. Sekitar seribu buruh dan pekerja memperingati hari pahlawan di sana. Cukup dengan membawa 6 (enam) mobil komando sudah bisa menyampaikan misi yang sama, ialah menuntut pemerintah mencabut Omnibus Law.

"Kita buruh terus melakukan gerakan untuk menuntut pemerintah mencabut UU Cipta Kerja Omnibus Law," teriak si orator yang memakai seragam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di atas mobil komando.

Massa aksi di dua tempat berbeda itu saling menjaga ketertiban dan keamanan. Tidak ada satu pun tindakan yang merugikan dan membahayakan. Hingga gelaran aksi selesai, mereka membubarkan diri dengan tertib. (mn/lp)